Ku katakan dengan indah, dengan terbuka. Hatiku Hampa...

Saya putuskan untuk menulis dalam Bahasa Indonesia. 1 hal yang mungkin hanya pernah saya lakukan 2 kali di dua setengah tahun umur blog ini. Selesai menulis 2 kalimat itu, terpikir bahwa saya tidak perlu mengecek ejaan tulisan saya, karena tentu saja semuanya akan salah karena mereka bukan kata-kata dalam Bahasa Inggris. Mengapa saya tidak menulis dalam Bahasa Indonesia? Saya tak tahu, mungkin sudah menjadi lebih terbiasa mengungkapkan rasa hati dalam Bahasa Inggris. Seingat saya, bahkan sebelum saya pindah ke Singapura, saya sudah mulai menulis di dalam buku harian saya dengan Bahasa Inggris. Saya rasa, salah satu alasan saya melakukan itu pada saat itu adalah untuk menjaga keamanan rahasia yang tersimpan dalam lembaran-lembaran buku itu.

Saya mencoba menulis dengan Bahasa Indonesia yang baku dan benar. Terkesan aneh kah? Atau puitis? Rasanya tidak benar memulai suatu kalimat dengan "atau". Tak apa...tidak apa-apa, saya boleh menulis apa yang ingin saya tulis. Lalu mengapa hari ini, tiba tiba saya memutuskan untuk menulis dalam Bahasa Indonesia. Judul di atas yang memulainya. Judul tersebut merupakan penggalan lagu dari Peterpan, Kukatakan Dengan Indah. Sedih. Hari ini bukan hari yang menyenangkan. Saya sedih dan ketika saya mendengarkan lagu itu, lirik di atas yang membuka lagu itu serasa benar-benar menggambarkan perasaan saya. Saya tahu, lagunya adalah lagu cinta dan yang saya rasa bukanlah kesedihan karena cinta. Akan tetapi, Hatiku hampa sungguh menggambarkan hilangnya harapan di hati saya. Padahal, hari ini dimulai dengan suatu kebijaksanaan ketika saya membaca salah satu tulisan yang Ayu taruh di blog nya. Inilah yang saya baca:

Kalau kau tak sanggup menjadi beringin yang tegak dipuncak bukit, jadilah saja belukar. Tapi belukar terbaik yang tumbuh ditepi danau. Kalau kau tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput. Tapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Tidak semua jadi kapten. Tentu harus ada awak kapalnya. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu, sebaik-baiknya dirimu sendiri.

[Soe Hok Gie]

Saya ingin menonton Gie, tetapi saya rasa tidak ada yang tertarik menemani saya, walaupun film ini ditayangkan di Singapore Movie Festival. Kata-kata yang indah dan bijaksana, bukan? Terbaik yang kau bisa. Saya rasa itulah pesannya.

Saat ini saya sedang sedih dan khawatir dan juga takut. Saya tahu saya mungkin terlalu sering menghadapi suatu situasi tanpa ketenangan, dan selalu melihat dari sisi gelapnya. Salahkan kemudaan usia saya? Mungkin itu tak bisa dijadikan alasan, karena saya tidaklah muda lagi. Mengapa saya masih tak tahu bagaimana berjalan dalam dunia ini? Mengapa saya masih ingin menangis dan berlari menghindar? Mengapa saya tidak bisa tenang? Mengapa kecemasan ini memenuhi ruang hati? Mengapa hidup tidak berjalan dengan tenang tanpa hambatan? Saya rasa karena itulah hidup. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lain dan saya tak tahu akankah saya berhenti menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu suatu saat nanti. Sudahlah, saatnya untuk berhenti menulis. Saya harus berdoa. Sedih, saya terlalu sedih dan terlalu takut.

:) eKa @ 8:58:00 PM •

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

back to home

tweets.

archives.